Hobby bersepeda kini sudah mulai menjamur di masyarakat apalagi
sejak di galakkannya program stop global warming. Tapi ada satu yang lebih menarik dari sekian banyak sepeda, low rider ya low rider. Trend sepeda low rider tampaknya sudah mulai menjalar di kalangan anak muda di tanah air kita ini. Katanya sih aliran low rider itu asalanya dari negeri paman sam. Amrik sono…
Di amerika sendiri low rider sudah eksis sejak tahun 1980an, yang lama kelamaan berkembang di seluruh penjuru dunia. Konon lahirnya low rider berasal dari suatu bentuk keprihatinan akan keinginan anak-anak muda buat ngrasain sensasi kendaraan low rider. Secara kebetulan keprihatinan itu mendapat sambutan hangat dari pabrik sepeda schwinn yang kemudian pingin membantu untuk memproduksinya dan model low rider yang pertama kali keluar yaitu new cruiser sting ray (1964). Di Negara kita sepeda ini sempat popular di tahun 1980an, namun lima tahun kemudian tepatnya setelah kemunculan sepeda BMX akhirnya sepeda jenis low rider tersingkirkan.
Dan sekarang setelah 27 tahun akhirnya sepeda ceper ini mulai memperlihatkan taringnya bukitnya sudah banyak sekali komunitas-komunitas low rider di berbagai kota. Sepeda ini memang mempunyai keunikan tersendiri apabila di bandingkan dengan sepeda lainnya. Bentuknya beraneka ragam dan unik mulai dari setang yang tinggi hingga jok yang memanjang atau sering di sebut sebagai banana sheet.
Bila dilihat sepintas memang keihatannya jenis sepeda ini di rancang untuk gaya-gayaan aja. Mamang benar dalam sepeda low rider kita lebih mementingkan penampilan dari pada kenyamanan. Buktinya bukan hal yang gampang untuk mengendarai low rider kalau belum terbiasa. Sepeda ini memang di desain untuk berjalan santai di jalan yang rata, namanya juga sepeda ceper. Hehehe…
Kalau buat aku yang penting sih dengan naik sepeda kita sudah turut serta dalam memerangi global warming, ramah lingkungan dan yang tidak kalah pentingnya bisa buat tubuh kita lebih sehat. Salam lowride…
Kamis, 24 Desember 2009
Mengubah Sepeda Tua Menjadi "Low Rider"
Olahraga Sepeda Santai Digemari Warga Palembang
Hobi memodifikasi sepeda tua supaya menjadi sepeda yang cantik kini banyak diminati. Sepeda tua yang terkenal dengan sebutan sepeda mini itu dicat warna-warni dan diberi bermacam aksesori. Sepeda mini yang telah dimodifikasi itu disebut sepeda low rider.Tryas Saputra (25), seorang pengurus Palembang Low Rider Community (Palowty), Jumat (20/2), mengungkapkan, ciri khas sepeda low rider adalah menggunakan rangka sepeda mini yang populer tahun 1970-an.
Untuk memperkuat kesan klasik, penggemar sepeda low rider biasanya menggunakan roda dengan jari-jari rapat yang mengilat, menggunakan ban warna putih, dan memasang keranjang dari rotan atau logam. Ciri lainnya adalah bentuk setang tinggi seperti setang motor gede.Beberapa penggemar sepeda low rider juga tak segan merogoh kocek untuk melengkapi sepedanya dengan peredam kejut.
Tryas mengatakan, ada beberapa bentuk sepeda low rider, di antaranya chopper, ori, dan bemo karena memiliki tiga roda.”Sepeda low rider harus menggunakan kerangka sepeda mini tahun 1970-an. Kalau menggunakan kerangka sepeda BMX atau sepeda gunung, bukan sepeda low rider,” kata Tryas. Arti kata low rider itu sendiri, menurut Tryas, adalah sepeda yang dikayuh dengan santai, bukan sepeda untuk ngebut.
Tryas mengutarakan, biasanya para penggemar sepeda low rider berburu kerangka dan aksesori lainnya di Jakarta dan Bandung. Setelah lengkap, semua komponen baru dirakit menjadi sepeda yang diinginkan.”Biaya untuk membuat sepeda low rider bervariasi, antara Rp 800.000 dan Rp 4 juta,” katanya.
Tryas menuturkan, penggemar sepeda low rider di Palembang bisa memesan di Sekretariat Palowty di kompleks PU Sukamaju, Kenten.Komunitas Palowty berdiri sejak tanggal 1 Januari 2008. Jumlah anggotanya saat ini sekitar 30 orang. Mereka biasa naik sepeda keliling kota, seperti di Jalan Veteran, GOR Sriwijaya, Kambang Iwak, dan Benteng Kuto Besak.”Kami mengadakan acara bakti sosial setiap tanggal 17 Agustus. Kami juga kerap diundang untuk menyemarakkan acara-acara dengan memajang sepeda low rider,” ujar Tryas.
Penyaluran hobi
Bagi penggemar sepeda low rider, mengayuh sepeda low rider merupakan penyaluran hobi naik sepeda. Hal itu diungkapkan oleh Umi (20), salah seorang anggota perempuan dari komunitas Palowty.Menurut Umi, sepeda low rider cocok untuk dikendarai perempuan karena tidak tinggi. Selain itu, sepeda low rider memang dirancang untuk dikendarai dengan santai.”Saya merakit sendiri sepeda low rider milik saya. Kerangka dan aksesorinya didatangkan dari Jakarta dan Bandung. Di Palembang, kerangka dan aksesori low rider sangat terbatas,” ujar Umi. Umi mengatakan bahwa ia mengendarai sepeda low rider setiap akhir pekan untuk olahraga bersama teman-temannya. (WAD)
Hobi memodifikasi sepeda tua supaya menjadi sepeda yang cantik kini banyak diminati. Sepeda tua yang terkenal dengan sebutan sepeda mini itu dicat warna-warni dan diberi bermacam aksesori. Sepeda mini yang telah dimodifikasi itu disebut sepeda low rider.Tryas Saputra (25), seorang pengurus Palembang Low Rider Community (Palowty), Jumat (20/2), mengungkapkan, ciri khas sepeda low rider adalah menggunakan rangka sepeda mini yang populer tahun 1970-an.
Untuk memperkuat kesan klasik, penggemar sepeda low rider biasanya menggunakan roda dengan jari-jari rapat yang mengilat, menggunakan ban warna putih, dan memasang keranjang dari rotan atau logam. Ciri lainnya adalah bentuk setang tinggi seperti setang motor gede.Beberapa penggemar sepeda low rider juga tak segan merogoh kocek untuk melengkapi sepedanya dengan peredam kejut.
Tryas mengatakan, ada beberapa bentuk sepeda low rider, di antaranya chopper, ori, dan bemo karena memiliki tiga roda.”Sepeda low rider harus menggunakan kerangka sepeda mini tahun 1970-an. Kalau menggunakan kerangka sepeda BMX atau sepeda gunung, bukan sepeda low rider,” kata Tryas. Arti kata low rider itu sendiri, menurut Tryas, adalah sepeda yang dikayuh dengan santai, bukan sepeda untuk ngebut.
Tryas mengutarakan, biasanya para penggemar sepeda low rider berburu kerangka dan aksesori lainnya di Jakarta dan Bandung. Setelah lengkap, semua komponen baru dirakit menjadi sepeda yang diinginkan.”Biaya untuk membuat sepeda low rider bervariasi, antara Rp 800.000 dan Rp 4 juta,” katanya.
Tryas menuturkan, penggemar sepeda low rider di Palembang bisa memesan di Sekretariat Palowty di kompleks PU Sukamaju, Kenten.Komunitas Palowty berdiri sejak tanggal 1 Januari 2008. Jumlah anggotanya saat ini sekitar 30 orang. Mereka biasa naik sepeda keliling kota, seperti di Jalan Veteran, GOR Sriwijaya, Kambang Iwak, dan Benteng Kuto Besak.”Kami mengadakan acara bakti sosial setiap tanggal 17 Agustus. Kami juga kerap diundang untuk menyemarakkan acara-acara dengan memajang sepeda low rider,” ujar Tryas.
Penyaluran hobi
Bagi penggemar sepeda low rider, mengayuh sepeda low rider merupakan penyaluran hobi naik sepeda. Hal itu diungkapkan oleh Umi (20), salah seorang anggota perempuan dari komunitas Palowty.Menurut Umi, sepeda low rider cocok untuk dikendarai perempuan karena tidak tinggi. Selain itu, sepeda low rider memang dirancang untuk dikendarai dengan santai.”Saya merakit sendiri sepeda low rider milik saya. Kerangka dan aksesorinya didatangkan dari Jakarta dan Bandung. Di Palembang, kerangka dan aksesori low rider sangat terbatas,” ujar Umi. Umi mengatakan bahwa ia mengendarai sepeda low rider setiap akhir pekan untuk olahraga bersama teman-temannya. (WAD)
Sepeda Ceper Lebih Gaya
DIBANDINGKAN dengan jenis kereta angin lainnya, jenis lowrider diakui lebih menunjukkan gaya hidup dan citra pemakainya. Secara sepintas saja, dari modelnya orang sudah menilai kalau jenis lowrider hanya sepeda untuk gaya-gayaan."Memang sepeda lowrider ini bukan sepeda untuk sarana olah raga atau transportasi. Saat ini, di kalangan komunitas sepeda lowrider sendiri, kepemilikan sekadar hobi atau kesukaan semata," ujar Arief Budiman, salah seorang pegiat sepeda lowrider, di sela-sela kegiatan sosialisasi "Bike to Work" beberapa waktu lalu.Baru tiga tahun belakangan ini, kehadiran sepeda jenis lowrider mampu menarik hati peminatnya. "Namun, sejauh ini tuntutan peminat sekadar untuk ikut-ikutan tren atau life style," ungkap Arief. Dibandingkan dengan sepeda-sepeda jenis lainnya, menurut Arief, lowrider membutuhkan perhatian lebih. Sebab, hampir semua bagian semisal ban, velg, dan setang berwarna krom, untuk perawatannya menggunakan krim khusus. "Untuk harga per unit, jangan ditanya, rata-rata di atas Rp 1 juta untuk yang standar.Oleh karena itu, banyak anggota komunitas memilih untuk membangun sendiri," kata Kimung.Ciri fisik sepeda lowrider adalah memiliki setang yang tinggi (ape hanger) dan garpu depan yang panjang sampai hampir menyentuh tanah. Adapun jok yang dipakai adalah jok model pisang (banana seat) dengan sandaran (sissy bar) dari besi. Kerangka sepeda biasanya menggunakan model pelangi (rainbow bent frame).Selain itu, biasanya pemilik memberikan tambahan aksesori lain seperti penutup pentil ban, rumbai-rumbai, serta kaca spion khas sepeda motor Harley-Davidson. Aksesori itu dilengkapi dengan logo khas sepeda lowrider, seperti orang tersenyum, mata dadu, atau angka delapan pada bola biliar.
Mengenai sebutan lowrider, menurut Kimung, merujuk pada sistem gerakan dari sebuah kendaraan yang dibuat lebih rendah dari ukuran normal. Sepeda ceper yang asalnya dari Amerika Serikat tersebut merupakan karya cipta George Barris, ahli mobil lowrider dan mulai diperkenalkan tahun 1960-an bersamaan dengan mulai dikenalnya tipe mobil lowrider.Lahirnya lowrider sendiri, berdasarkan sejarahnya, merupakan bentuk keprihatinan Barris akan keinginan anak-anak untuk turut merasakan sensasi kendaraan lowrider. Ternyata keprihatinan Barris mendapat sambutan pabrik sepeda Schwinn yang kemudian membantu untuk memproduksi dan pertama kali keluar model sepeda lowrider bernama New Cruiser Sting Ray (1964).
Di Indonesia, sepeda ini sempat populer pada 1980-an. Namun, lima tahun kemudian, bersamaan dengan keluarnya sepeda jenis BMX, sepeda lowrider langsung tersingkir.Setelah berselang 25 tahun, sepeda ceper kembali naik daun. Awalnya, para pemakainya masih berpencar dan menikmati sepeda tersebut sendiri-sendiri. Setahun kemudian, komunitas sepeda mulai terbentuk di mana-mana, seiring dengan munculnya komunitas penunggang sepeda lain seperti Bike to Work dan Komunitas Sepeda Onthel. Kini di kala bersepeda menjadi life style yang mengangkat citra penggunanya, setiap pemilik lowrider seakan terus memuaskan diri. "Pehobi, terutama kolektor umumnya tidak hanya memiliki satu tunggangan lowrider, kalau tidak dua, bisa tiga atau bahkan lima," ujar Kimung.Seperti koleksi yang dimiliki dirinya, tidak hanya lowrider Schwinn dengan bentuk standar pabrik, tetapi juga hasil modifikasi. Koleksi lowrider-nya dengan velg berbagai ukuran ring mulai dari ring 12, 14, 16, 20, 24, hingga yang 26 inci. Seperti halnya Kimung, para anggota komunitas lainnya juga memiliki kecintaan atau bahkan bisa dibilang gila kepada sepeda lowrider.
Untuk menunjukkan gaya hidup di komunitasnya, mereka terus berlomba-lomba mengoleksi lowrider, mulai dari buatan tahun lama (antik) hingga merek dan jenis terbaru serta terunik. Di antaranya, selain merek Schwinn, juga ada merek Benny, Cruiser, dan lainnya dengan berbagai ukuran velg.Karena fungsinya hanya sebagai bagian dari gaya hidup, penggemar sepeda lowrider biasanya tidak pernah mengadakan acara mengayuh pedal untuk jarak yang sangat jauh, apalagi bersepeda hingga ke daerah yang sulit seperti tepi pantai atau lereng gunung. "Karena fungsi alat transportasi ini bisa dibilang lebih untuk bergaya. Tak berlebihan bila sebagian dari mereka menyebut sepeda lowrider sebagai show bike. Mereka pun seperti berlomba memodifikasi sepedanya agar tetap bergaya," ungkap Gungun.Tingginya minat pemilik untuk memodifikasi sepeda ceper membuat para perakit sepeda (builder) lokal pun mereguk untung.
Alasan para pencinta sepeda ini tetap memesan sendiri onderdil kepada pembuat sepeda karena bagi mereka bentuk sepeda yang dijual utuh di toko sangat standar, kurang gaya. Kendati belakangan sepeda jenis ini mulai bisa dibeli di beberapa toko secara lengkap, mereka tetap saja kebanjiran order. Kini, di tengah semakin maraknya penggila lowrider, muncul jenis lowrider twist. Jenis sepeda lowrider twist alias melintir, tidak hanya pada bagian setangnya, tetapi juga belakangan bagian kerangka, jeruji, hingga batang jok dan sandarannya ikut dipelintir.Dibandingkan dengan lowrider jenis lainnya, pemilik lowrider twist gengsinya lebih tinggi. Hal ini karena tingkat kerumitan yang sangat tinggi dan proses pembuatannya juga jauh lebih lama. Harganya pun antara Rp 6 juta sampai ada yang Rp 15 juta. Membangun gaya hidup dengan sepeda lumayan mahal juga! (Retno H.Y./"PR")***
Komunitas Pecinta Sepeda Lowrider
Kecil Tapi IndahKreatifitas emang tak akan pernah mati. Begitu pula dengan perkembangan kreatifitas anak-anak muda Pontianak. Salah satu yang tampaknya penuh dengan ide-ide kreatif itu adalah komunitas pecinta sepeda unik.Kesan yang unik ditampilkan sepeda-sepeda lowrider yang akhir-akhir ini sering terlihat mondar mandir di jalanan kota Pontianak. Lowrider alias kendaraan ceper emang lagi digandrungi oleh remaja, khususnya lowrider bicycle, sebutan bagi sepeda hasil modifikasi.Belakangan trend naik sepeda bukan cuma untuk olahraga yang menyehatkan, tapi sudah bergeser menjadi arena bergaya.
Istilah lowrider muncul sebab pengendara sepeda ini duduk di sadel yang lebih rendah dibanding sepeda lain alias ceper, sedangkan bentuknya terserah si pemilik mau dimodif seperti apa. Secara umum sepeda lowrider punya bentuk melengkung yang biasa disebut busur atau rainbow pada bagian tengah sasisnya. Terus ada juga yang disebut sepeda cewek ditandai dengan bentuk sasisnya landai melengkung ke bawah. Di Pontianak komunitas lowrider udah terbentuk, salah satunya yang diberi nama Pontianak Lowrider. Komunitas ini terbentuk sekitar awal 2008, awalnya Pontianak Lowrider terbentuk dari kegemaran anak-anak muda di komplek Perdana untuk memodif sepeda.
Karena kesamaan hobi itulah akhirnya mereka sepakat untuk membentuk komunitas lowrider. Semakin lama komunitas ini nggak hanya terkenal dikalangan anak-anak komplek tersebut, hingga kini jumlah anggota yang tergabung ada sekitar 50 orang lebih yang biasa bermarkas di Perdana. Berbagai kegiatan dan event pun diikuti oleh pencinta sepeda jenis ini meski nggak sebanyak di pulau Jawa seperti Bandung, Jakarta, Jogja dan Bali yang sudah sering mengadakan lowrider contest. Di Pontianak, lowrider baru pada tahap fun bike, dimana komunitasnya berkumpul dan melakukan touring, jalan dan ngeceng.
“Senin malam adalah jadwal rutin kami buat ngumpul dan jalan-jalan. Biasanya kami rolling mengitari jalan-jalan seperti A. Yani, PSP, Kota Baru dan lainnya. Jalan-jalan santai, enjoy, sesuai dengan slogan kita slow and low,” ujar Dwi Sutiono, salah satu anggota Pontianak Lowrider ini. Berbagai event fun bike yang diadakan di Korem, GOR dan lain-lain dalam rangka memperingati hari-hari besar pun mereka ikuti.
Jenis sepeda lowrider yang ada beragam, ada yang jenis classic, old scool, extreme, limo, basman, standar dan jenis lainnya. Di Pontianak Lowrider sendiri jenis yang paling banyak adalah classic.
Konon nih sepeda lowrider pertama kali muncul di Amerika di sekitar tahun 60- an pada saat mobil ceper lagi jadi trend di kalangan anak mudanya. Tapi karena tidak semua punya mobil akhirnya muncul ide modifikasi sepeda, seperti layaknya mobil ceper. Malah bukan hanya ketinggiannya dipendekin, bagian lain sepeda juga didandanin, karena bentuknya yang unik sepeda ceper pun akhirnya jadi trend tersendiri yang meluas ke penjuru dunia termasuk Indonesia. Bisa dibilang sejak sekitar tahun 2005 komunitas pencinta sepeda unik ini mulai menjamur ke tanah air. Walau terlihat sederhana, penghobi lowrider harus siap merogoh kocek, paling tidak harus siap dana minimal 1,5 juta. “Untuk satu sepeda dan modifikasinya dana yang dibutuhkan berkisar 1 juta sampe 5 juta,” ujar Dwi yang udah memiliki dua sepeda ini. Bagi penggemarnya dana yang dikeluarkan mungkin nggak terlalu jadi masalah, yang penting sepeda kesayangan mereka tampil cantik, seksi dan unik. (sya)
Minggu, 20 Desember 2009
Sejarah Lowrider Bicycle
Di Amerika bermula pada tahun 1960-an dari komunitas para imigran mexico, yang lebih dikenal dengan CHICANO.Berawal dari kebutuhan akan eksistensi agar keberadaan mereka sebagai pendatangn diakui oleh masyarakat setempat, mereka mulai membuat suatu karya seni melalui media mobil dengan mempergunakan mobil – mobil tua khususnya merk Chevrolet yang akhirnya berkembang pesat menjadi LIFE STYLE yang lebih dikenal dengan HISPANIC CULTURE atau kebudayaan Masyarakat Latin. Pada perkembangannya, mereka mulai mempergunakan media lainnya yaitu sepeda sebagai tempat menuangkan apresiasi seni. Dalam sepeda sendiri mempunyai konsep yang hampir sama dengan jarahan modifikasi mobil, identik dengan Low n Slow yang memang dikhususkan untuk para Poser( tukang nampang ), pada perkembangannya baik dalam memodifikasi mobil & sepeda sudah mempergunakan suspensi HIDROLIK dan pemaka
ian warna yang Colorfull ( Blink – blink ). Pada tahun 2000-an, trend sepeda Lowrider baru mulai masuk ke Indonesia, bermula dari kota besar seperti : Jakarta, Bandung, Surabaya dan kemudian mulai berkembang ke kota kota lainnya di Indonesia. Mulai terasa gaungnnya setelah Tabloid MotorPlus Meliput anak-anak Jakarta Selatan untukdimuat ditablid tersebut sekitar tahun 2006. Awalnya di Bandung sendiri dimulai dengan jenis cruiser dengan roda 26inch + 3speed yang telah beredar dengan merk polygon cruiser, sedangkan untuk jenis choppernya win cycle pertama kali mengedarkannya. Untuk mereka yg mempunyai budget lebih mereka lebih suka meng import langsung dari Amerika untuk perlengkapan maupun fullbike, salah satu importirnya adalah Mr. Oktaf (Royal Queen) yang masih aktif sampai saat ini meramaikan dunia persepedahan di Bandung. Sedangkan untuk yang budgetnya pas-pasan mulai lah perburuan ke tukang-tukang loak sepeda untuk mencari sepeda mini jadul (atau disebut juga stingray) untuk di rekondisi maupun di modif. Beda lagi dengan mang oplu, setelah puas berburu sepeda mini ... akhirnya ketemu dengan epul chommet yang memperlihatkan gambar-gambar dari internet berupa sepeda chooper dengan gaya roda besar di depan dan roda kecil dibelakang. Akhirnya dengan referensi gambar tersebut sepeda kepunyaan anaknya dijadikan bahan eksperimen untuk dijadikan sepedah chopper dengan menggunakan roda 20" di depan dan roda 16" di belakang, berkat bantuan kang deni ibenk dan keahlian pak wawan (jl. Bogor) sebagai tukang las akhirnya terwujud sepeda tersebut. Gara gara bereksperimen akhirnya mang oplu pun gatal untuk membuat sepeda selanjutnya untuk ukuran dewasa dengan roda depan 24" dan roda belakang 20". dan beredar pertama kali saat Pasar Seni ITB 2006 dan saat Bandung Bike Week (HDCI). Saat itu sepeda stingray adalah pilihan yang bagus untuk di modif dan referensi gambar nya pun banyak berdedar di internet terutama di lowrider magazine. Para Builder motor pun ada yang membuat, salahsatunya adalah Indra Bluesmann, Rudy Flyiing Piston Garage yang mulai unjuk gigi pertama kali saat acara Ogre custom with Kelpie Automotive Fiesta 2007 present " 1st Indonesia Custom Bicycle contest 2007" di Monumen Perjuangan jalan dipati ukur pada tanggal 23 Juni 2007. Iyus Blackjuice(pedal power) pun saat ini masih aktif memodif sepeda maupun membuat komponen variasi unutk sepeda lowrider mulai dari kaca spion sampai dengan springer untuk sepeda. Dan Ko' Wawa (toko sepeda di jl. veteran sebelah sinar Bangka) akhirnya mensupport untuk melengkapi komponen sepeda seperti mereplika batang sepeda stingray ataupun mengimport komponen/fullbike. Akhirnya Komunitasnya pun terbentuk dengan sendirinya, dengan selalu berkumpul tiap Jum;at sore di Taman Cikapayang jalan dago berkumpul bareng dengan Komunitas "Bike to Work". Dan di jakarta ada bro Hafiz (virgin) yang aktif berpartisipasi meramaikan lowrider bicycle.
ian warna yang Colorfull ( Blink – blink ). Pada tahun 2000-an, trend sepeda Lowrider baru mulai masuk ke Indonesia, bermula dari kota besar seperti : Jakarta, Bandung, Surabaya dan kemudian mulai berkembang ke kota kota lainnya di Indonesia. Mulai terasa gaungnnya setelah Tabloid MotorPlus Meliput anak-anak Jakarta Selatan untukdimuat ditablid tersebut sekitar tahun 2006. Awalnya di Bandung sendiri dimulai dengan jenis cruiser dengan roda 26inch + 3speed yang telah beredar dengan merk polygon cruiser, sedangkan untuk jenis choppernya win cycle pertama kali mengedarkannya. Untuk mereka yg mempunyai budget lebih mereka lebih suka meng import langsung dari Amerika untuk perlengkapan maupun fullbike, salah satu importirnya adalah Mr. Oktaf (Royal Queen) yang masih aktif sampai saat ini meramaikan dunia persepedahan di Bandung. Sedangkan untuk yang budgetnya pas-pasan mulai lah perburuan ke tukang-tukang loak sepeda untuk mencari sepeda mini jadul (atau disebut juga stingray) untuk di rekondisi maupun di modif. Beda lagi dengan mang oplu, setelah puas berburu sepeda mini ... akhirnya ketemu dengan epul chommet yang memperlihatkan gambar-gambar dari internet berupa sepeda chooper dengan gaya roda besar di depan dan roda kecil dibelakang. Akhirnya dengan referensi gambar tersebut sepeda kepunyaan anaknya dijadikan bahan eksperimen untuk dijadikan sepedah chopper dengan menggunakan roda 20" di depan dan roda 16" di belakang, berkat bantuan kang deni ibenk dan keahlian pak wawan (jl. Bogor) sebagai tukang las akhirnya terwujud sepeda tersebut. Gara gara bereksperimen akhirnya mang oplu pun gatal untuk membuat sepeda selanjutnya untuk ukuran dewasa dengan roda depan 24" dan roda belakang 20". dan beredar pertama kali saat Pasar Seni ITB 2006 dan saat Bandung Bike Week (HDCI). Saat itu sepeda stingray adalah pilihan yang bagus untuk di modif dan referensi gambar nya pun banyak berdedar di internet terutama di lowrider magazine. Para Builder motor pun ada yang membuat, salahsatunya adalah Indra Bluesmann, Rudy Flyiing Piston Garage yang mulai unjuk gigi pertama kali saat acara Ogre custom with Kelpie Automotive Fiesta 2007 present " 1st Indonesia Custom Bicycle contest 2007" di Monumen Perjuangan jalan dipati ukur pada tanggal 23 Juni 2007. Iyus Blackjuice(pedal power) pun saat ini masih aktif memodif sepeda maupun membuat komponen variasi unutk sepeda lowrider mulai dari kaca spion sampai dengan springer untuk sepeda. Dan Ko' Wawa (toko sepeda di jl. veteran sebelah sinar Bangka) akhirnya mensupport untuk melengkapi komponen sepeda seperti mereplika batang sepeda stingray ataupun mengimport komponen/fullbike. Akhirnya Komunitasnya pun terbentuk dengan sendirinya, dengan selalu berkumpul tiap Jum;at sore di Taman Cikapayang jalan dago berkumpul bareng dengan Komunitas "Bike to Work". Dan di jakarta ada bro Hafiz (virgin) yang aktif berpartisipasi meramaikan lowrider bicycle.
Langganan:
Komentar (Atom)
